Hari Buruh dan Puisi




Tanggal 1 Mei ditetapkan menjadi Hari Buruh atau May Day pada Kongres Sosialis Dunia yang digelar di Paris bulan Juli 1889. Hari Minggu ini (1/5) ribuan buruh turun ke jalan, tak terkecuali di jalan-jalan protokol ibukota Jakarta. Para buruh melakukan kritik dan protes kepada pemerintah dan perusahaan agar bisa memperbaiki nasib buruh.

Sejarah singkat Hari Buruh pertama kali pada tahun 1806, ketika terjadi mogok kerja yang dilakukan para buruh Cordwainers, perusahaan pembuat sepatu di Amerika Serikat. Namun, para penggagas aksi pemogokan tersebut malah dibawa ke pengadilan untuk diproses hukum. Dalam persidangan itu terungkap fakta yang sangat mengagetkan, sebab mereka benar-benar diperas tenaganya karena diharuskan bekerja selama 19-20 jam.

Perjuangan para buruh semakin keras agar jam kerja dikurangi. Peran penting Peter McGuire, seorang buruh asal New Jersey, dalam mengorganisir perjuangan tersebut. Tahun 1872, ia bersama ribuan buruh lainnya melakukan aksi mogok kerja untuk menuntut pengurangan jam kerja.

1 Mei 1886, sekitar 400 ribu buruh Amerika Serikat menggelar aksi demonstrasi besar-besaran. Aksi ini berlangsung selama empat hari. Pada hari terakhir, 4 Mei 1886, polisi Amerika Serikat menembaki buruh yang berdemonstrasi, hingga ratusan orang tewas. Para pemimpin demonstrasi buruh itu pun ditangkap dan dihukum mati. Peristiwa ini dikenal Tragedi Haymarket.

Lalu puisi? Mengapa puisi selalu ada dihampir tiap aksi unjuk rasa, selain orasi menyampaikan aspirasi dan tuntutan-tuntutan pemerintah dan perusahaan. Para aktivis buruh tentu hafal kalimat ini, maka hanya ada satu kata: lawan!

Ya, kalimat terakhir puisi "Peringatan" karya Wiji Thukul tersebut sudah sangat populer di kalangan aktivis buruh. Puisi karya Wiji Thukul itu menjadi simbol perlawanan  terhadap kekuatan atau kekuasaan yang sewenang-wenang.

Hingga hari ini para buruh masih berdaya untuk terus memperjuangkan nasib dan haknya. Para buruh mengharapkan pemerintah dan perusahaan bisa melakukan perbaikan dan memberikan peningkatan upah di tengah makin mahalnya kebutuhan hidup dan dan harga-harga yang melonjak.

Tiba-tiba, entah bagaimana mulanya, saya teringat kawan-kawan seniman yang dulunya pernah berprofesi sebagai buruh pabrik di kota Tangerang dan Serang. Meski mereka merasa dibayar dengan upah yang murah di tengah himpitan ekonomi yang makin melilit itu, mereka masih sanggup meluangkan waktu dan tenaganya untuk berkesenian. Ada yang menulis puisi, cerita pendek, melukis, dan bahkan berteater. Kegiatan-kegiatan itu mereka lakukan dengan tekun dan serius. Tidak main-main atau sekadar iseng-iseng saja.

Kawan-kawan saya itu bergabung dan ikut guyub di beberapa kantong-kantong budaya yang ada di kota Tangerang, seperti Roda Roda Budaya, Budaya Buruh Tangerang (Bubutan), dan sanggar-sanggar lainnya. Saat itu,  tentu saja, mereka harus menambah biaya untuk memenuhi kebutuhannya.

Bahkan kini, beberapa kawan saya itu, sudah ada yang menjadi penyair dan cerpenis, serta pelukis bertaraf nasional.

Ah, saya tidak ingin bersedih-sedih dalam tulisan ini. Sesungguhnya, saya dan kawan-kawan saya itu tidak pernah bersedih ketika kehilangan kesedihan.


Depok, 1 Mei 2016
Share on Google Plus

About Unknown

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar