Kecintaan Trisutji Djuliati Kamal Terhadap Musik Klasik


Komponis Trisutji Djuliati Kamal baru saja menerima Penghargaan Akademi Jakarta 2016. Penghargaan itu diterimanya atas dedikasi dan ketekunanannya pada musik klasik. Penghargaan diserahkan oleh Wakil Ketua Akademi Jakarta Toeti Heraty N. Roosseno di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Kamis (29/12/2016).
Trisutji Kamal yang nama lengkapnya Kanjeng Raden Ayu (KRA) Trisutji Djuliati Kamal. Trisutji lahir di Jakarta, 28 November 1936, dari pasangan Djulham Surjowidjojo dan B.R.A. Nadima Kusmarkiah.
Tahun 1955 Trisutji berangkat ke Eropa untuk studi musik dalam jurusan piano dan komposisi. Selama 12 tahun, Trisutji menekuni seni musik di Amsterdam, Paris, dan Roma. Trisutji menyelesaikan studinya tidak hanya dalam piano dan komposisi saja, namun ia termasuk perempuan pertama di Italia yang lulus dalam Akustik Musik.
Semasa mahasiswa di Roma, Trisutji memperkenalkan karya-karyanya di Wina, Praha, Moskow di Lomonosof University. Operanya Roro Jonggrang merupakan opera Indonesia pertama dalam satu babak dan dua scena yang digelar di Castel Sant Angelo Roma.
Tahun 1967 sekembalinya ke Indonesia, Trisutji mengajar di Sekolah Musik Murni Medan. Selanjutnya konser di Medan, Bandung, Jakarta, Surabaya, Solo. Selain itu, Trisutji juga aktif di RRI Medan sebagai juri. Tahun 1979 pementasan sendratari Gunung Agung dengan koreografi almarhumah Farida Sjuman. Penari yang terlibat antara lain Farida, Sentot, Sardono, Nungki, Julianti Parani, dan lain-lain.
Momentum kehadirannya di Indonesia sangat tepat, ketika Jakarta memerlukan tokoh-tokoh sekaliber Trisutji. Maka, bersama Frans Haryadi dan Iravati Soediarso, ia ikut memainkan peranan dalam mengangkat musik klasik di Indonesia. Selain mengajar musik, ia juga mendirikan sekolah musik, melakukan pementasan di berbagai Kota, dan membuat aransemen musik untuk sejumlah film Indonesia yang ketika itu begitu semarak.
Trisutji menikah dengan arsitek Ir A Badawi Kamal. Dari pernikahan itu, pasangan ini dikaruniai tiga anak, yakni Mahendra, Mahendrani, dan Paramagita. Dua putrinya yang disebut terakhir, mengikuti jejak Trisutji di bidang musik.
Perjalanan hidup Trisutji laksana panggilan kebudayaan sebagai representasi kecintaan pada musik. Baginya musik adalah totalitas gagasan dan kiprahnya dalam memaknai kehidupan sebagai warga bangsa, sebagai makhluk Tuhan. Trisutji terus melakukan pencarian dan eksplorasi untuk menghasilkan berbagai kemungkinan komposisi.
Selain Penghargaan Akademi Jakarta 2016, sebelumnya ia telah menerima Bintang Budaya Parama Bhakti (2010), dan Anugerah Yayasan Pendidikan Musik (2012).
Trisutji telah menghasilkan 200 komposisi, antara lain Sungai, Kepergian, Opera Roro Jonggrang, 10 musik ilustrasi film, lebih dari 130 piano solo, 2 solo flute, 1 flute dengan piano, 3 solo biola alto, 1 biola alto dengan piano, 1 solo cello, 25 vokal dengan piano perkusi dan vokal Bali, 6 ensemble, 4 trio dan kuartet, 4 paduan suara a cappella, 3 paduan suara dengan simfoni orkestra, 5 karya simfoni, 1 piano konserto dengan orkestra, 1 piano konserto dengan bumbung Bali, harpa, viola dan cello, dan 5 musik sendratari.
Trisutji menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di Medan tahun 1947, SMP Methodist School, Medan (1950), SMA Concorante, Medan (1954), Conservatorium Musik Amsterdam, Negeri Belanda (1955), Ecole Normalet, Paris, Prancis, dan Cinservatorio de Musica St Caecilia, Roma, Italia (1963). Di Amsterdam, Trisutji pernah berguru kepada komponis Belanda ternama Henk Badings.
Begitulah Trisutji Kamal, tampil sebagai komponis perempuan Indonesia pertama dan satu-satunya yang karya-karyanya menyimpan pesan kekayaan kultural, filosofis, bahkan juga spiritual. Karya-karyanya laksana merepresentasikan kekayaan batinnya dalam memaknai dan menerjemahkan kehidupan di negeri ini yang memang kaya dengan warna lokalitas etnik. Sebuah pencapaian yang lahir melalui proses panjang pengalaman hidup, perenungan atas berbagai warna musik yang dilatarbelakangi keberagaman budaya, dan kesadaran pada kehidupan makrokosmos. Tentu juga pergulatannya secara total dalam bidang yang dicintainya, yakni musik, turut menentukan pencapaian estetiknya.
Share on Google Plus

About Unknown

    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

  1. JackpotCity Casino UK Review 2021 - LuckyClub
    JackpotCity is a UK based gaming site with luckyclub.live a lot of expertise. We have been offering casino games and over 500 of the top live dealer games to our customers  Rating: 4.5 · ‎Review by LuckyClub

    BalasHapus